CILACAP-Kabupaten Banyumas menjajaki kemungkinan kerjasama dengan Kabupaten Cilacap dalam rangka pengolahan sampah. Penjajakan kerjasama ini dipimpin langsung oleh Bupati Banyumas, Ir. Achmad Husein, didampingi Kepala DLH Banyumas dan sejumlah pejabat terkait melakukan kunjungan kerja di Cilacap.

Kunjungan Bupati Banyumas diterima langsung oleh Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji, di ruang Prasanda Pendopo Wijayakusuma Cilacap, Rabu (16/01). Dalam kesempatan tersebut, Bupati didampingi Sekretaris Daerah Drs. Farid Maruf, MM, Plt. Kepala DLH Kabupaten Cilacap, Dian Setyabudi, Kepala Bapelitbanda, Sumbowo dan sejumlah pejabat terkait dijajaran Pemkab Cilacap.

Bupati Banyumas Ir. Achmad Husein dalam kesempatan tersebut mengatakan, kunjungannya di Kabupaten Cilacap dalam rangka menjajaki kemungkinan kerjasama tentang pembuangan/pengolahan residu sampah yang ada di Banyumas.

Penanganan sampah di Banyumas saat ini dilakukan di Hanggar, yang berfungsi mengelola dan memilah sampah yang dibangun di tujuh lokasi, Kecamatan Ajibarang, Wangon, Sumbang, Kalibagor, Sumpiuh, dan dua unit di Kota Purwokerto. Namun demikian pengolahan di Hanggar masih menyisakan residu. Residu ini tidak memiliki nilai ekonomis dan harus dibuang, ujar Husein.

Husein menambahkan untuk membuang residu tersebut dilakukan dengan dua cara yakni dimusnahkan dan disimpan di TPA.  Saat ini Banyumas sudah tidak memiliki TPA, jadi residu itu harus dimusnahkan. Pemusnahan residu dilakukan dengan tiga cara, yakni RDF/ Refused Derived Fuel, pembakaran dengan incinerator, dan Pirolisis.

Kedua cara yakni pirolisis terlalu mahal dan incinerator harus beli. Proses kedua alat ini cukup panjang. Sedang di Cilacap sedang dibangun RDF dan dimungkinkan masih memerlukan tambahan residu untuk di olah di RDF Cilacap, ujar Husein.

Untuk itu, Pemkab Banyumas menjajaki kemungkinan kerjasama dengan Cilacap, untuk bisa menerima residu sampah dari Kabupaten Banyumas. Karena di Cilacap sudah berdiri pabrik RDF, ujar Husein.

Residu sampah yang dihasilkan Kabupaten Banyumas, jumlah cukup besar. Setiap harinya mencapai 15 trcuk atau setara dengan 45 ton. Selama ini sampah tersebut diolah di hanggar.

Kemungkinan kerjasama pengolahan residu sampah, saat ini menunggu proses pabrik RDF Cilacap yang sedang melakukan Pre Commisioning /uji coba selama tiga bulan. Setelah itu, baru dilakukan start up yang dilanjutkan dengan proses pengolahan sampah yang sebenarnya. Jadi Pemkab Banyumas setelah uji coba baru bisa melakukan kerjasama dengan Pemkab Cilacap, ujar Husein.

Plt Kepala DLH Kabupaten Cilacap, Dian Setyabudi dalam kesempatan tersebut menyampaikan, pengelolahan sampah dari mulai rumah tangga, paguyuban kebersihan lingkungan, TPS hingga TPA, mungkin itu semuanya hampir sama apa yang dilakukan oleh Kabupaten Cilacap maupun kabupaten Banyumas.

Lebih lanjut Dian menjelaskan, pengolahan sampah di Cilacap dan Banyumas yang sedikit berbeda, yakni di Cilacap ada kegiatan pembangunan pengolahan sampah dengan sistem RDF.

Pembangunan RDF ini lanjut Dian, berawal dari gagasan divisi Geocycle pabrik Semen Holcim mempunyai program pemanfaatan sampah sebagai pengganti batubara. Selama ini pembakaran di Pbarik Holcim memang menggunakan batu bara. Hanya saja Holcim menginginkan bahan pembakaran yang ramah lingkungan, dengan memanfaatkan limbah sampah untuk jadikan bahan bakar.

Dian mengemukakan, produksi sampah di Kabupaten Cilacap, mencapai 120 ton per hari. Sampah tersebut, ketika nanti diolah di RDF akan menghasilkan sekitar 40 sampai 45 ton sampah kering. Harapannya produksi ini akan dijual kepada pihak ketiga, yakni Holcim yang sudah memasang feeding system yang bisa mengolah hasil RDF ini. System ini setiap harinya membutuhkan 40 sampai 45 ton sampah kering sebagai bahan bakar pengganti batu bara.

Seperti diketahui produksi sampah Cilacap yang mencapai 1210 ton per hari mempunyai lahan TPA seluas 6,3 hektar. Dari luas tersebut, yang sudah menjadi TPA pasif seluas 4,9 hektar. Jadi TPA yang aktif saat ini seluas 1, 4 hektar. Apabila itu terus menerus digunakan, maka pada tahun 2019, TPA tersebut sudah harus ditutup. Dengan adanya RDF ini, mamang penanganan sampah di Cilacap sangat terbantu, karena kapasitas mesin yang ada mampu menampung 140 ton per hari, ujar Dian.

Usai diterima di Prasanda Tim dari kabupaten Banyumas mengadakan peninjauan ke pabrik RDF di Tritih Wetan.

 

 

Sumber : Humas Cilacap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *