MBEDIDING : SUHU DINGIN DAN KERING

oleh : Muhamad Kundarto Pusat Studi Lahan UPN “Veteran” Yogyakarta Kundarto Pusat Studi Lahan UPN “Veteran” Yogyakarta

“mBediding” adalah istilah bahasa jawa untuk menggambarkan kondisi puncak musim kemarau, yang ditandai dengan suhu dingin dan kering. Suhu dingin dan kering ini dapat membuat banyak orang terlena tanpa mengantisipasi (adaptasi) dengan baik, sehingga bisa menimbulkan banyak gangguan kesehatan.

Kondisi mbediding tahun 2019 ini disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, musim kemarau yang tegas membuat langit relatif bersih tanpa awan, sehingga proses pendinginan bumi dari sinar matahari siang berlangsung sangat cepat, maka suhu malam hari umumnya amat dingin menusuk tulang, apalagi di daerah cekungan dataran tingi dapat menimbulkan frost (embun upas, butir-butir es). Kedua, tahun ini diprediksi terjadi puncak elnino (kemarau panjang), sehingga kondisi mbediding ini bisa berlangsung sampai Agustus-September. Curah hujan yang biasa turun Oktober bisa mundur ke November. Ketiga, konon suhu dingin disebabkan angin yang berasal dari benua Australia yang bersifat kering dan suhu rendah.

Berikut ini beberapa hal yang perlu diperhatikan dan diantisipasi :

PERTAMA : Hemat Air Tanah

Kondisi air sumur rumah tangga umumnya mengalami penurunan dan dapat terancam kekeringan. Maka, hematlah menggunakan air untuk kepentingan seperlunya saja dan bila dianggap memang penting.

Ingat, debit sumur baru akan pulih pada sekitar bulan November-Desember. Curah hujan pada beberapa minggu pertama tidak otomatis menaikkan debit air sumur.

KEDUA : Mudah Kekeringan dan Dehidrasi

Tanpa disadari proses evapotranspirasi, termasuk penguapan pada tubuh kita, berlangsung sangat cepat. Kita akan mudah mengalami kekurangan cairan tubuh. Maka perbanyak air minum (air putih) dan hindari berada di bawah terik matahari dalam waktu lama. Penyakit yang bisa muncul setelah dehidrasi dalah sariawan dan panas dalam.

Tanaman juga mudah mengalami kekeringan. Jika tidak ada air irigasi, maka tanaman semusim akan mudah mengalami kekeringan dan mati.

KETIGA : Mudah Terkena Penyakit Saluran Pernafasan (ISPA)

Udara kering tanpa hujan membuat butir-butir tanah mengering dan beterbangan ikut terbawa angin. Hal ini mampu memicu penyakit saluran pernafasan, seperti suara mudah serak, batuk, pilek, bronchitis dan paru-paru.

Bila aktifias di luar rumah (ruang terbuka) sebaiknya memakai masker pelindung debu.

KEEMPAT : Rawan Kebakaran Hutan dan Lahan

Kondisi kekeringan membuat daun-daun mudah mengering dan rontok di permukaan. Demikian juga dengan kondisi lahan gambut dan lahan kering (dry land). Kondisi ini akan makin mempercepat kebakaran apabila ada pihak-pihak tertentu yang memicu kebakaran.

Pasukan pemadam kebakaran (manggala agni) perlu siaga 24 jam dan mengidentifikasi sumber-sumber air sebagai langkah preventif apabila terjadi kebakaran. Ingat!, pada umumnya kebakaran banyak terjadi di puncak musim kemarau.

KELIMA : Buat Tubuh Banyak Gerak

Terkadang kondisi dingin membuat kita malas beraktifitas. Tetapi makin diam, tubuh akan semakin terasa dingin dan lemah. Maka solusinya harus banyak melakukan aktifitas fisik agar suhu terjaga tetap hangat dan mampu melawan suhu dingin lingkungan.

Bila perlu lakukan jemur badan di bawah sinar matahari pagi untuk kesehatan dan menghangatkan badan.

Semoga manfaat. (Share By Marsidi/Bid 3).


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *